Kini
aku semakin mengerti bahwa setiap kehidupan memiliki ceritanya masing-masing
dengan cara yang berbeda, ada yang lebih rumit ataupun lebih gampang. Namun,
untuk saat ini sepertinya aku berada di cara yang rumit.
Aku
menuliskan ini untukmu. Untuk orang yang tak pernah menganggapku dan selalu
mengabaikan ku. Aku tidak ingin ada kebohongan ataupun kebenaran yang kau
tutupi. Aku ingin disaat terakhir kita bersama mendengar tawamu yang sangat
renyah. Bukan kebenaran yang ditutupi. Kamu lebih memilih mencintai orang lain dibanding
aku yang selalu setia menemanimu.
Menyadari
perbedaanmu itu, membuatku memutar otakku berkali-kali bahwa ada seseorang
dari masa lalumu yang kini kembali menjadi cinta barumu. Dan mungkin akan
menjadi masa depanmu. Aku doakan itu. Lagi pula dia jauh sangat buruk
dibandingkan dengan aku. Jahat? Aku memang jahat. Sayangnya, kamu dan kekasih
barumu yang tidak seberapa itu lebih jahat.
Jika
dulu permata perumpamaanku kini aku aku
menarik perkataanku itu, kamu tidak lebih indah dari kotoran. Jahat adalah
sifat aslimu yang kau tutupi selama belasan bulan. Mulut manismu hanya merusak
kehidupanku. Mengenalmu adalah hal paling bodoh yang pernah kulakukan
dihidupku. Aku membencimu. Kamu itu pembunuh. Pembunuh cintaku, pembunuh
kebahagiaanku, bahkan telah membunuh kehidupanku.
Tapi
entah kenapa dibalik kebencian dan lukaku, masih tersirat jutaan cinta untukmu.
Bahkan jika kamu ingin kembali aku akan membuka pintu hati untukmu. Aku memang
bodoh. Itulah kenyataannya. Rasa benciku padamu masih belum bisa menutupi
cintaku padamu. Dan aku menyadari sampai kapanpun dibalik kalimat “Aku Benci
Kamu” akan selalu ada “Aku Cinta Kamu” dibalik kalimat itu.
No comments:
Post a Comment